Tak Seperti Lebaran Tahun Lalu
30 September 2008 — trikoraTak seperti tahun-tahun lalu, lebaran tahun ini aku tak pulang. Tahun ini pula untuk pertama kalinya kurayakan Idul Fitri jauh di tanah Afrika. Jauh dari keluarga. Jauh-jauh hari pula aku sudah mempersiapkan diri untuk ini, untuk tidak merasakan hangatnya berkumpul bersama keluarga, untuk tidak menikmati kerabu toge, sajian rutin keluarga saat berbuka puasa, untuk tidak merasakan lontong gulai ayam yang biasanya disajikan setiap 1 Syawal oleh mak ku, untuk tidak merasakan kumpul-kumpul bersama teman-teman di kampung halaman, handai taulan dan ke-5 saudaraku yang semuanya tinggal terpisah di luar kota.
Idul Fitri di sini dirayakan hari ini, 30 September, satu hari lebih dulu dari pengumuman Pemerintah Indonesia. Tapi tak apa, sudah biasa. Yang tak biasa adalah suasananya. Malam idul fitri di sini tak seheboh di Indonesia. Tak terdengar takbir berkumandang bersahutan meskipun dari corong-corong mesjid. Tapi tak mengapa, aku dan teman-teman tetap senang karena Ramadhan berhasil dilalui meskipun sambil bekerja di penghujung musim panas. Sayangnya malam ini sebagian teman-teman yang lain terpaksa harus kerja di pelabuhan, karena mendadak ada kapal masuk dan harus dibongkar.
Biar lebaran besok jadi indah, malam ini, dengan bekal kekompakan, kami coba buat makanan khas lebaran, lontong gulai ayam (sungguh kebetulan yang indah buatku
). Tapi apa daya, 2 kali lontong dimasak, 2 kali gagal. Santan kaleng yang dipesan juga tak berhasil didapat, seolah-olah hilang dari seluruh penjuru kota. Yaah, besok pagi makan indomie telor lagi, hiks. O iya, Indomie adalah salah satu produk Indonesia yang sangat banyak membantu kami di sini, meskipun nemuinnya rada susah.
1 Syawal pagi…
Kami bersama-sama berangkat ke mesjid dekat rumah buat solat Ied, termasuk teman-teman yang baru pulang pagi dari pelabuhan. Sholat tidak dilakukan di lapangan, katanya sih, dari dulu emang begitu (mungkin karena negara ini adalah daerah padang pasir dan berangin). Sesampai di mesjid aku terkaget-kaget karena ternyata takbirannya ga sama dengan yang sepanjang hidup pernah kudengar. Tapi yang hebat, para jamaah tidak bermalas-malasan mengumandangkan takbir, semua bersemangat meskipun tidak ada pemandu takbir dengan mic-nya (beda banget sama di Indonesia
). Ketika khatib naik mimbar pun, semuanya meneriakkan Allahu Akbar dengan lantang mengikuti khatib yang hampir sepanjang khutbah melafazkannya.
Selesai khutbah, tidak ada yang buru-buru pulang (semua jamaahnya laki-laki). Bahkan para jamaah yang berada di luar masjid dari yang dewasa sampai anak-anak masuk ke dalam masjid buat bersalam-salaman dan berpelukan sambil mengucapkan doa kebaikan. Sungguh suasana yang sangat akrab dan mengharukan. Seolah-olah semuanya adalah satu keluarga.
Meskipun dengan suasana yang sangat asing, aku merasa Idul Fitri kali ini sangat bermakna. Lebaran jauh dari keluarga terbalaskan dengan pengalaman baru penuh hikmah. Sayang aku tak dapat menceritakan semuanya. Semoga Allah di Idul Fitri tahun ini merahmati kita semua di manapun berada, dan menerima ibadah Ramadhan kita di singgasana-Nya yang agung.
Met Idul Fitri 1429 H, Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.