Tak Seperti Lebaran Tahun Lalu

Tak seperti tahun-tahun lalu, lebaran tahun ini aku tak pulang. Tahun ini pula untuk pertama kalinya kurayakan Idul Fitri jauh di tanah Afrika. Jauh dari keluarga. Jauh-jauh hari pula aku sudah mempersiapkan diri untuk ini, untuk tidak merasakan hangatnya berkumpul bersama keluarga, untuk tidak menikmati kerabu toge, sajian rutin keluarga saat berbuka puasa, untuk tidak merasakan lontong gulai ayam yang biasanya disajikan setiap 1 Syawal oleh mak ku, untuk tidak merasakan kumpul-kumpul bersama teman-teman di kampung halaman, handai taulan dan ke-5 saudaraku yang semuanya tinggal terpisah di luar kota.

Idul Fitri di sini dirayakan hari ini, 30 September, satu hari lebih dulu dari pengumuman Pemerintah Indonesia. Tapi tak apa, sudah biasa. Yang tak biasa adalah suasananya. Malam idul fitri di sini tak seheboh di Indonesia. Tak terdengar takbir berkumandang bersahutan meskipun dari corong-corong mesjid. Tapi tak mengapa, aku dan teman-teman tetap senang karena Ramadhan berhasil dilalui meskipun sambil bekerja di penghujung musim panas. Sayangnya malam ini sebagian teman-teman yang lain terpaksa harus kerja di pelabuhan, karena mendadak ada kapal masuk dan harus dibongkar.

Biar lebaran besok jadi indah, malam ini, dengan bekal kekompakan, kami coba buat makanan khas lebaran, lontong gulai ayam (sungguh kebetulan yang indah buatku :D ). Tapi apa daya, 2 kali lontong dimasak, 2 kali gagal. Santan kaleng yang dipesan juga tak berhasil didapat, seolah-olah hilang dari seluruh penjuru kota. Yaah, besok pagi makan indomie telor lagi, hiks. O iya, Indomie adalah salah satu produk Indonesia yang sangat banyak membantu kami di sini, meskipun nemuinnya rada susah.

1 Syawal pagi…

Kami bersama-sama berangkat ke mesjid dekat rumah buat solat Ied, termasuk teman-teman yang baru pulang pagi dari pelabuhan. Sholat tidak dilakukan di lapangan, katanya sih, dari dulu emang begitu (mungkin karena negara ini adalah daerah padang pasir dan berangin). Sesampai di mesjid aku terkaget-kaget karena ternyata takbirannya ga sama dengan yang sepanjang hidup pernah kudengar. Tapi yang hebat, para jamaah tidak bermalas-malasan mengumandangkan takbir, semua bersemangat meskipun tidak ada pemandu takbir dengan mic-nya (beda banget sama di Indonesia :mrgreen: ). Ketika khatib naik mimbar pun, semuanya meneriakkan Allahu Akbar dengan lantang mengikuti khatib yang hampir sepanjang khutbah melafazkannya.

Selesai khutbah, tidak ada yang buru-buru pulang (semua jamaahnya laki-laki). Bahkan para jamaah yang berada di luar masjid dari yang dewasa sampai anak-anak masuk ke dalam masjid buat bersalam-salaman dan berpelukan sambil mengucapkan doa kebaikan. Sungguh suasana yang sangat akrab dan mengharukan. Seolah-olah semuanya adalah satu keluarga.

Meskipun dengan suasana yang sangat asing, aku merasa Idul Fitri kali ini sangat bermakna. Lebaran jauh dari keluarga terbalaskan dengan pengalaman baru penuh hikmah. Sayang aku tak dapat menceritakan semuanya. Semoga Allah di Idul Fitri tahun ini merahmati kita semua di manapun berada, dan menerima ibadah Ramadhan kita di singgasana-Nya yang agung.

Met Idul Fitri 1429 H, Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Pernah Ngirim Surat?

Pasti pernah ya. Apalagi yang kerja di perusahaan-perusahaan ato instansi-instansi pemerintah. Mungkin hampir setiap hari buat surat, terus dikirim via fax ato e-mail, ato via Pos buat yang ngirim dokumen. Tapi bukan surat itu yang gw maksud. Maksud gw adalah surat tidak resmi yang ditujukan untuk kenalan-kenalan kita. Ortu, teman, saudara dan handai taulan. Nah, kalo surat yang beginian, gw yakin belum tentu semua orang pernah.

Teknologi telah merubah semuanya. Apalagi sejak munculnya handphone dan booming hingga sekarang, dan sejak internet tidak lagi jadi barang baru. Menulis surat cukup dengan SMS ato e-mail. Semuanya serba praktis dan dijamin nyampe ASAP. Lebih keren lagi, kita bisa ngobrol lewat berbagai aplikasi chating. Setiap tulisan, bisa langsung dibalas, dengan biaya yang relatif murah. Bahkan kalo mau bisa cam to cam. Hebat. :)

Gw mo berbagi cerita soal surat. Dulu, gw sering banget ngirim surat, terutama ke ortu. Maklum, sejak tamat SD hingga sekarang, efektif hanya 1 tahun gw bersama ortu. Selebihnya gw berada jauh dari mereka, entah buat belajar ato bekerja. Surat jadi media utama komunikasi karena blom jaman handphone. Meskipun masih bisa nelpon lewat wartel, itupun sekali-sekali, maklum anak kos, harus jaga budget. :mrgreen:

Menulis surat itu gampang-gampang susah, sama kaya nulis blog :mrgreen: . Menulis surat juga banyak serunya. Kadang kita justru lebih mudah menyampaikan sesuatu ke orang lain lewat surat ketimbang ngomong langsung. Semuanya bisa dijelaskan panjang lebar dengan kalimat yang indah. Namun terkadang surat juga bikin jengkel, soalnya kadang nyampenya bisa 2 minggu. Surat juga bikin kita rajin nungguin pak pos datang, soalnya dah ga sabaran nunggu balasan :D . Dulu, gw bisa hapal berapa banyak perangko yang dibutuhkan untuk ngirim surat ke suatu kota plus lama waktu nyampenya. Tapi sekarang, liat perangko pun hampir ga pernah.

Jadi, pengen nyoba ngirim surat?

——

Berhubung teman gw ga pulang ke Indonesia pas lebaran nanti, istrinya minta sesuatu sebagai ganti. Sepucuk surat. Aneh. Padahal hampir tiap hari telpon-telponan, kadang-kadang cam to cam lewat YM. Surat itu nantinya akan dititip lewat teman yang kebetulan pulang lebaran. Buat apa surat? Entahlah. Mungkin sehelai surat dengan tulisan tangan orang terkasih lebih ampuh sebagai pengobat rindu. :)

Blog…

Bismillah..

Alhamdulillah, ini blog pertama gw, gak nyangka bisa punya. Awalnya ga tau, sekarang malah punya. Hehe.. Terima kasih buat Lies  Surya, teman dari dunia maya, yang telah memperkenalkannya buat gw. God bless you…

Semoga blog ini bermanfaat buat gw berbagi kisah, ide dan pemikiran, semoga bisa memberi manfaat buat yang baca. Kalo ada yang senang dengan tulisan gw, syukur…. kalo ada yang ga senang… syukurin… hehe… Maklum, gw ga terlalu bisa nulis. (Ini aja tulisan pertama bikinnya lama banget, hehe..). Bagi yang mo ngajarin, gw terima kasih banget.

Posted in Koq bisa.... Tags: . 23 Comments »