Laut Tengah

Tidak seperti biasa, hari libur kali ini kita ke pantai. Biasanya kita lebih sering mengisi hari libur yang cuma 1 hari ini buat istirahat dan olah raga di rumah. Selain kelelahan setelah 6 hari bekerja, tapi juga karena sholat Jumat di mesjid dekat rumah membuat kita bisa saling sapa dengan penduduk sekitar. Biar tetap gaul, soalnya jarang ketemu. :)

Sebenarnya pantai bukanlah hal yang aneh. Di Indonesia banyak banget, dengan berbagai kisah tersimpan di dalamnya. Sama dengan pantai ini. Pinggiran Laut Mediterania (Mediterranean Sea) atau biasa kita sebut dengan Laut Tengah ini juga menyimpan banyak kisah. Posisinya unik banget, berada di tengah-tengah 3 benua. Sebelah utaranya Eropa, sebelah selatannya Afrika, sebelah timurnya Asia. Sebelah baratnya terhubung langsung dengan Samudera Atlantik melalui sebuah selat yang lebarnya hanya sekitar 14 km saja. Namanya Selat Gibraltar.

Mediterranean Sea

Tercatat ada sekitar 24 negara yang berbatasan langsung dengan laut ini, dan negeri Qaddafi ini memiliki garis pantai terpanjang. Ini pula yang menyebabkan laut ini memiliki peranan penting terhadap kegiatan perekonomian dan lalu lintas perdagangan. Di masa lalu, laut yang dalam bahasa arabnya Albahr Almutawassith ini juga menjadi sarana pertukaran budaya antara orang Mesir, Yunani, Romawi dan Timur Tengah.

Dah ah, kembali ke cerita semula :) . Di pantai. Berbekal makanan yang banyak dan minuman yang berlimpah (maklum kita lebih 30 orang, hehe…) yang kita beli sebelumnya, plus seekor kambing, liburan pun dimulai. O iya, di sini, dipisahkan antara pantai untuk laki-laki dan keluarga (Tau kenapa?)

Satu-satu teman-teman mulai turun ke air, main bola. Gw? Sebagai orang yang cinta keindahan lebih memilih menikmati indahnya laut ciptaan Allah ini (padahal lagi males, hehe..) dengan duduk2 nyantai di bawah pondok beratapkan pelepah kurma kering. Ngobrol ketawa ketiwi nyicil cemilan yang terhidang sambil menikmati aroma daging kambing yang lagi dibakar teman2 yang lain. Pantai memang jadi penyejuk untuk negara yang lebih dari 90% daerahnya terdiri dari padang pasir ini.

“Wooi… turun donk,” teriak teman2 manggil nama gw (Biasalah, para penggemar. Hihihi…).

“Entarlah, masih panas!” gw berkilah. Maklum, musim panas belum berakhir.

Tanpa kusadari, telah terjadi persekongkolan jahat. Berpura2 mo moto gw, beberapa teman mulai mendekat. Tiba-tiba beberapa pasang tangan sudah megangin tangan dan kaki gw. Gw coba berontak, hampir berhasil, tapi tangan orang-orang Arab ini lebih kuat. Gw diseret, diangkat, digotong ke air…. dilempar! Akhirnya basah juga.

Mau kesal ga bisa, wong teman2 sendiri. Tinggallah gerutuanku tenggelam dalam gemuruh tawa teman-teman menyambut langkah kakiku keluar dari Laut Mediterania.

lempar-1.JPG lempar-2.JPG lempar-3.JPG 

Mencari Jodoh

Alkisah, seorang pemuda bertemu seorang temannya. Dia bercerita tentang keinginannya untuk segera menikah, namun sampai sekarang belum menemukan pendamping yang dia inginkan. Diapun memulai ceritanya.

“Gadis pertama yang gw kenal telah gw putusin. Karena setelah beberapa waktu jalan bersama, gw menemukan bahwa gadis ini mempunyai beberapa kekurangan.”

Si teman manggut-manggut.

Si pemuda melanjutkan ceritanya.

“Tak lama setelah itu gw bertemu gadis kedua. Gw berharap inilah gadis yang akan jadi pendamping gw, karena kekurangan pada gadis pertama, tak ada padanya. Sayangnya setelah hampir memutuskan untuk meminangnya, gw menemukan kekurangan lain pada dirinya. Akhirnya gw putusin juga gadis ini.”

“Nah, beberapa waktu yang lalu gw bertemu gadis ketiga. Menurut gw, dia itu…. sempurna! Gw merasa dia telah memenuhi kriteria-kriteria gw.”

Si teman bertanya, “Jadi kamu meminangnya?”

“Iya”, jawab si pemuda. “Tapi dia menolaknya”.

“Kenapa?” tanya si teman.

“Ternyata dia juga mencari lelaki yang sempurna”.

 

Hiks… 

Filipino*) (Bag. 1)

Seperti biasa dalam perjalanan ke kantor, mobil yang membawaku memasuki halaman rumah bercat cokelat muda, warna paling umum untuk bangunan-bangunan di kota ini. Setelah berhenti sesaat, seorang gadis muda membuka pintu mobil sebelah kanan.

Sambil masuk dia berujar, “Pagi.”

Kujawab, “Magandang Umaga**)”.

“Appa kabaar?” Ucapnya lagi”

Mabuti***)”, jawabku sambil tersenyum.

Namanya Jenny, teman sekerjaku. Dia bukan orang Indonesia lho, tapi Filipino. Gadis asal Tanza, Cavite, Philippines ini adalah satu dari sekian banyak Filipino di negara ini.

Filipino memang fenomenal, mereka mungkin ada hampir di seluruh belahan bumi. Mulai dari Asia, Eropa, Amerika, Australia, Timur Tengah, sampai Afrika. Lah, mereka ngapain? Jawabnya: Kerja.

Tenaga kerja asal negeri Gloria Macapagal Arroyo ini memang terkenal rajin dan ulet sehingga banyak diminati pasar tenaga kerja dunia. Kalo di Indonesia mungkin kaya orang Jawa kali ya.. :)

Sehingga wajar, kalo Tagalog, bahasa resmi mereka, ikut-ikutan nge-trend. Di negeri Paman Sam aja, berdasarkan sensus tahun 1990 & 2000, Tagalog menjadi bahasa kedua Asia terbanyak digunakan di USA (setelah bahasa China), dan bahasa Non-English keenam terbanyak di gunakan di Benua Amerika. Ck ck ck…

Nah, berhubung wajah orang Indonesia dan Philippines gak beda-beda amat, gak heran kalo pas gue ketemu orang lokal, di kantor, ato di bank, ato di pasar, ato di toko, mereka selalu bilang….

“Are You Filipino?”  :)

 ———-

*) Sebutan untuk orang Philippines

**) Tagalog; Selamat pagi

***) Tagalog; Baik