Laut Tengah
29 August 2008 — trikoraTidak seperti biasa, hari libur kali ini kita ke pantai. Biasanya kita lebih sering mengisi hari libur yang cuma 1 hari ini buat istirahat dan olah raga di rumah. Selain kelelahan setelah 6 hari bekerja, tapi juga karena sholat Jumat di mesjid dekat rumah membuat kita bisa saling sapa dengan penduduk sekitar. Biar tetap gaul, soalnya jarang ketemu.
Sebenarnya pantai bukanlah hal yang aneh. Di Indonesia banyak banget, dengan berbagai kisah tersimpan di dalamnya. Sama dengan pantai ini. Pinggiran Laut Mediterania (Mediterranean Sea) atau biasa kita sebut dengan Laut Tengah ini juga menyimpan banyak kisah. Posisinya unik banget, berada di tengah-tengah 3 benua. Sebelah utaranya Eropa, sebelah selatannya Afrika, sebelah timurnya Asia. Sebelah baratnya terhubung langsung dengan Samudera Atlantik melalui sebuah selat yang lebarnya hanya sekitar 14 km saja. Namanya Selat Gibraltar.
Tercatat ada sekitar 24 negara yang berbatasan langsung dengan laut ini, dan negeri Qaddafi ini memiliki garis pantai terpanjang. Ini pula yang menyebabkan laut ini memiliki peranan penting terhadap kegiatan perekonomian dan lalu lintas perdagangan. Di masa lalu, laut yang dalam bahasa arabnya Albahr Almutawassith ini juga menjadi sarana pertukaran budaya antara orang Mesir, Yunani, Romawi dan Timur Tengah.
Dah ah, kembali ke cerita semula
. Di pantai. Berbekal makanan yang banyak dan minuman yang berlimpah (maklum kita lebih 30 orang, hehe…) yang kita beli sebelumnya, plus seekor kambing, liburan pun dimulai. O iya, di sini, dipisahkan antara pantai untuk laki-laki dan keluarga (Tau kenapa?)
Satu-satu teman-teman mulai turun ke air, main bola. Gw? Sebagai orang yang cinta keindahan lebih memilih menikmati indahnya laut ciptaan Allah ini (padahal lagi males, hehe..) dengan duduk2 nyantai di bawah pondok beratapkan pelepah kurma kering. Ngobrol ketawa ketiwi nyicil cemilan yang terhidang sambil menikmati aroma daging kambing yang lagi dibakar teman2 yang lain. Pantai memang jadi penyejuk untuk negara yang lebih dari 90% daerahnya terdiri dari padang pasir ini.
“Wooi… turun donk,” teriak teman2 manggil nama gw (Biasalah, para penggemar. Hihihi…).
“Entarlah, masih panas!” gw berkilah. Maklum, musim panas belum berakhir.
Tanpa kusadari, telah terjadi persekongkolan jahat. Berpura2 mo moto gw, beberapa teman mulai mendekat. Tiba-tiba beberapa pasang tangan sudah megangin tangan dan kaki gw. Gw coba berontak, hampir berhasil, tapi tangan orang-orang Arab ini lebih kuat. Gw diseret, diangkat, digotong ke air…. dilempar! Akhirnya basah juga.
Mau kesal ga bisa, wong teman2 sendiri. Tinggallah gerutuanku tenggelam dalam gemuruh tawa teman-teman menyambut langkah kakiku keluar dari Laut Mediterania.